160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
930 x 180 AD PLACEMENT

Pulau Kemaro: Simbol Akulturasi Islam – Tionghoa di Palembang

750 x 100 AD PLACEMENT

Palembang, Wartaone-nusantara.com – Di tengah pesonanya sebagai salah satu destinasi ikonik di Sumatra Selatan, Pulau Kemaro yang berdiri di tengah aliran Sungai Musi terus memikat peziarah lintas etnis dan negara. Pulau ini tidak hanya dikenal lewat visual pagodanya yang megah, melainkan juga sebagai ruang terbuka yang merekam harmoni keagamaan, akulturasi budaya, dan sejarah panjang peradaban Melayu-Tionghoa di Bumi Sriwijaya.

Namun, selain keindahan wisatanya, tata kelola fasilitas publik dan aksesibilitas di kawasan sekitar tetap memerlukan perhatian berkala dari otoritas terkait. Luapan musiman air Sungai Musi saat curah hujan tinggi, seperti yang sempat menggenangi titik di Jalan Lintas Timur Kalidoni-Gandus, menjadi pengingat pentingnya kesinambungan pemeliharaan infrastruktur jalan demi kelancaran mobilitas logistik masyarakat dan kenyamanan para pengunjung.

Jembatan Diplomasi Global dan Kiprah Kapiten Bong Su.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa keharmonisan antar etnis di Palembang telah mengakar kuat sejak era Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, hingga masa Dinasti Ming di Tiongkok. Hubungan internasional ini berjalan dinamis melalui jalur perdagangan laut yang memanfaatkan navigasi angin muson maritim.

750 x 100 AD PLACEMENT

Salah satu figur historis yang krusial dalam lini masa ini adalah Kapiten Bong Su We (Wong King), seorang tokoh Muslim Tionghoa bermarga Ma yang hidup pada abad ke-17. Merujuk pada kajian sejarah daerah, sebutan “Kapiten” pada era tersebut merupakan sebuah penugasan dari Sultan Palembang sebagai kepala rombongan dagang sekaligus pengawas perdagangan luar negeri, bukan merupakan pangkat militer bentukan kolonial.

Sultan Palembang kala itu memercayakan posisi strategis ini kepada para saudagar Muslim, termasuk tokoh keturunan Tionghoa dan India, guna menjembatani urusan perdagangan yang kompleks dengan berbagai kongsi dagang asing, termasuk VOC. Jasa besar Kapiten Bong Su dalam menjaga stabilitas niaga dan kedamaian lintas etnis kini terpatri di kompleks pemakamannya.

Eksistensi Saudagar Kho Ching di Daratan Palembang

Daya tarik historis Pulau Kemaro kerap diidentikkan dengan legenda romantis antara Siti Fatimah dan Tan Bun An. Namun, jejak asimilasi sosial-ekonomi masyarakat keturunan Tionghoa sebenarnya tersebar luas hingga ke daratan utama Palembang.

750 x 100 AD PLACEMENT

Keterikatan sejarah ini salah satunya dibuktikan melalui eksistensi Pangeran Saudagar Kho Ching (Babah Yhu Jhing), tokoh yang dianugerahi pangkat Melayu-Jawa sebagai Kyai Mas Husin. Berbeda dengan makam di Pulau Kemaro, makam leluhur Kho Ching ini terletak di Kompleks Makam Bangsawan (Suro), wilayah 30 Ilir Talang Semut. Kehadiran situs-situs pemakaman bersejarah di berbagai sudut kota ini mempertegas fakta bahwa komunitas Tionghoa Muslim telah menyatu dan memberikan kontribusi nyata dalam tatanan sosial masyarakat Palembang sejak berabad-abad silam.

Saat ini Cik Harun, seorang warga Tionghoa Sekayu, penganut agama Budhisme aliran Tri Dharma Palembang sedang meneliti (2025-2026) makam pulau Kemaro, diharapkan hasil penelitiannya semakin menambah khazanah pengetahuan budaya masyarakat Sumatera Selatan.

Aspirasi Fasilitas Ibadah dan Pelestarian Cagar Budaya

750 x 100 AD PLACEMENT

Hingga saat ini, Pulau Kemaro eksis sebagai simbol inklusivitas budaya, terutama saat puncak perayaan tradisi keagamaan seperti Cap Go Meh, di mana para peziarah dari dalam dan luar negeri berkumpul untuk mendoakan leluhur mereka.

Guna mengakomodasi kebutuhan spiritual peziarah Muslim yang turut berkunjung ke situs-situs sejarah di kawasan tersebut, muncul aspirasi dari kalangan budayawan serta zuriat (keturunan) Baba Palembang. Mereka mengusulkan kemungkinan pembangunan sebuah fasilitas ibadah berupa musholla (langgar) berukuran 8×8 meter dengan sentuhan arsitektur khas Tiongkok di sekitar area makam keramat.

Rencana ini diharapkan dapat menjadi pelengkap fasilitas umum yang sudah ada sekaligus memperkuat visualisasi akulturasi budaya di Pulau Kemaro. Melalui sinergi antara pelestarian nilai sejarah, pengembangan wisata religi yang inklusif, dan penataan infrastruktur yang responsif terhadap kondisi lingkungan, nilai-nilai luhur kedamaian dari masa lalu Palembang diharapkan dapat terus terjaga dan diwariskan dengan baik.

Referensi:
Dari berbagai sumber catatan sejarawan dan diantaranya dari Kliping Drs. Abd Azim Amin, M.Hum (Baba Ce’ Azim). Beliau merupakan sejarawan lokal, budayawan, sekaligus Ketua Yayasan Najahiyah Palembang.

(*/KMDA)

750 x 100 AD PLACEMENT
Mungkin anda tertarik
930 x 180 AD PLACEMENT