TANGERANG, wartaone-nusantara.com — Catatan sejarah emas Islam di sekitar Laut Mediterania kerap kali menjadi sasaran manipulasi politik luar negeri selama berabad-abad. Mulai dari pembingkaian negatif yang memicu Perang Salib, jatuhnya Andalusia pada 1492 M, hingga lahirnya Perjanjian Tordesillas, kekuatan politik Barat terus mengincar wilayah Islam. Artikel ini membedah bagaimana kelengahan internal dan pudarnya rasa tawaduk para penguasa masa lalu menjadi titik balik runtuhnya kekhalifahan, sekaligus menjadi refleksi penting bagi masa depan dakwah.

Penaklukan wilayah Palestina dan Yerusalem (Baitul Maqdis) pada tahun 638 M menjadi bukti nyata bahwa Islam hadir sebagai pelindung, bukan penindas. Setelah pengepungan yang dipimpin oleh Panglima Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Khalifah Umar bin Khattab mengambil keputusan besar untuk mengganti posisi Panglima Khalid bin Walid yang baru saja menaklukkan Persia.
Keputusan ini mengandung hikmah yang mendalam. Khalifah Umar ingin mengajarkan kepada umat dan dunia bahwa ekspansi Islam tidak boleh mengandalkan kebanggaan atau kesombongan atas kekuatan militer semata. Ketika ancaman musuh sudah mereda, dakwah harus dialihkan melalui pendekatan kelembutan, keadilan, dan kebaikan karakter.
Pendekatan humanis ini membuahkan hasil. Kepala agama Kristen di Yerusalem saat itu, Patriark Sophronius, menolak menyerahkan kota kepada pasukan militer. Ia memilih untuk menyerahkan kunci kota Yerusalem secara langsung kepada Khalifah Umar karena terkesan oleh keadilan Islam. Momentum ini melahirkan Al-Uhda al-Umariyah (Perjanjian Umar), yang menjamin keamanan jiwa, harta, dan kebebasan beribadah bagi penganut Kristen di sana.

Pada abad-abad berikutnya, kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban Islam di sekitar Laut Mediterania dan Palestina memicu kekhawatiran di Eropa. Untuk membendung pengaruh ini, dibangunlah pembingkaian (framing) dan sentimen negatif terhadap Islam. Narasi ini disebarkan untuk menggalang dukungan emosional dari penganut agama Kristen di Inggris, Prancis, dan Roma.
Di balik jubah agama tersebut, terdapat kepentingan politik ekspansi dan ambisi kekuasaan dari kelompok-kelompok yang kelak terafiliasi dengan gerakan Zionis. Konflik kepentingan ini memicu pecahnya Perang Salib yang berlangsung selama berabad-abad, dimulai sejak seruan Paus Urbanus II pada tahun 1095 M. Ketangguhan benteng pertahanan dan perlawanan kokoh dari tentara Islam di Palestina—seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi saat merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M—membuat kekuatan politik Eropa mulai mengalihkan fokus mereka.

Pengalihan target politik Eropa bermuara di Semenanjung Iberia (Andalusia). Pada tahun 1492 M, benteng terakhir umat Islam di Granada runtuh di bawah pasukan Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I. Kejatuhan ini menjadi contoh tragis bagaimana kepentingan politik dibalut dengan sentimen agama. Penduduk Muslim dan Yahudi di Andalusia dihadapkan pada pilihan kejam: dipaksa masuk Kristen (Inkuisisi Spanyol), diusir, atau dibunuh secara massal.
Setelah menguasai Andalusia, bangsa Eropa merampas seluruh khazanah ilmu pengetahuan yang ditinggalkan oleh ilmuwan Muslim. Buku-buku sains, kedokteran, dan astronomi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Warisan intelektual ini mereka klaim dan kembangkan, yang kemudian memicu era Renaissance dan melahirkan teknologi militer yang sangat kuat di Eropa.
Berbekal persenjataan militer modern, negara-negara ini mulai menjelajah dan menjajah belahan dunia lain. Keserakahan atas wilayah baru memicu lahirnya Perjanjian Tordesillas pada 7 Juni 1494 M, yang ditandatangani oleh Spanyol dan Portugal dengan restu Paus Alexander VI. Perjanjian ini membelah dunia menjadi dua: wilayah barat untuk Spanyol dan wilayah timur untuk Portugis. Ironisnya, wilayah-wilayah yang mereka jarah sebenarnya sudah berpenduduk, bahkan sebagian berada di bawah naungan protektorat kekuasaan Kekhalifahan Turki Usmani.

Seiring berjalannya waktu, stabilitas peradaban Islam mulai goyah dari dalam. Para penguasa dan masyarakatnya terjebak dalam buaian kemewahan, terlena oleh kejayaan masa lalu, dan hilangnya rasa tawaduk (rendah hati). Ketika rasa syukur dan kerendahan hati memudar, kelemahan internal pun menggerogoti institusi negara.
Di sisi lain, perebutan kekuasaan antarnegara Eropa memuncak pada Perang Dunia I (1914–1918). Kekhalifahan Turki Usmani yang saat itu dipimpin secara de jure oleh Sultan Mehmed VI berada di pihak yang kalah. Wilayah kekuasaannya diobrak-abrik dan diruntuhkan oleh negara-negara Sekutu. Pada tahun 1917 M, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour melalui Menteri Luar Negerinya, Arthur Balfour, yang menjanjikan tanah Palestina kepada kelompok Zionis di bawah pimpinan Walter Rothschild. Dokumen inilah yang membuka jalan bagi pembentukan negara Israel secara resmi pada tahun 1948 M.
Melihat kembali lembaran sejarah di atas, umat Islam kontemporer mendapatkan pelajaran berharga mengenai cara berinteraksi dengan dunia internasional:
Sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan yang dibangun di atas dasar kesombongan materi akan runtuh ketika materi itu hilang. Namun, kejayaan yang dipupuk dengan fondasi akhlak, kebaikan, dan kerendahan hati akan meninggalkan jejak kedamaian yang abadi di hati umat manusia.
(KMDA/Red)
Iya kenapa sekarang banyak orang yang berislam tapi tidak menjiwai semangat yang diajarkan oleh nabi, sahabat (umar), wali-wali yang menyebarkan islam di Indo.