160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
930 x 180 AD PLACEMENT

Memeluk Angin dan Desau Ombak di Altar Ekowisata Kelas Dunia, Ujung Kulon

750 x 100 AD PLACEMENT

PANDANGLANG wartaone-nusantara.com – Ada sebuah magis yang ditawarkan oleh Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Di tempat yang menjadi benteng pertahanan terakhir bagi badak bercula satu di dunia ini, alam seolah menyuguhkan simfoni terbaiknya. Mulai dari deburan ombak lembut di Pulau Peucang hingga desau angin yang menyelinap di belantara mangrove Pulau Handeuleum, setiap sudutnya menyimpan ketenangan yang matang.

Perjalanan menyusuri surga tersembunyi di Provinsi Banten ini bukan sekadar liburan biasa, melainkan sebuah ziarah alam yang meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang menapakinya.

Untuk merasakan langsung denyut keindahan tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada dunia, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti, bersama para mitra pariwisata melakukan perjalanan eksplorasi ke kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO ini. Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat posisi Banten sebagai destinasi ekowisata unggulan, baik di kancah nasional maupun internasional.

“Banten memiliki potensi wisata alam yang luar biasa dan tidak pernah kehabisan destinasi menarik untuk dikunjungi,” tutur Eli Susiyanti saat menyapa keheningan Pulau Peucang, Kabupaten Pandeglang.

750 x 100 AD PLACEMENT

Menjemput Fajar dan Senja di Altar Alam

Kisah petualangan ini dimulai dari Pulau Handeuleum. Di sana, rombongan diajak melambat, menyusuri rimbunnya hutan mangrove melalui jalur tracking yang teduh. Di sela-sela akar bakau yang kokoh, sepoi angin menemani langkah kaki sembari sesekali menyaksikan satwa liar yang melintas bebas di habitat aslinya. Sebuah pemandangan yang memperlihatkan betapa kayanya biodiversitas yang dimiliki Ujung Kulon.

Perjalanan kemudian beralih menembus ombak menuju Pulau Panaitan. Di pulau ini, waktu seolah berhenti berputar. Rombongan memilih bermalam demi bisa mencecap romansa alam yang lebih utuh.

“Kami mengeksplorasi keindahannya, sempat melakukan snorkeling melihat bawah lautnya, serta menikmati panorama sunrise dan sunset yang sangat memukau,” kenang Eli dengan mata berbinar. Menaksikan matahari terbit dan tenggelam di cakrawala Panaitan bagaikan melihat lukisan hidup yang berganti warna secara perlahan.

750 x 100 AD PLACEMENT

Eksplorasi berlanjut ke ikon-ikon keindahan TNUK lainnya. Ada Pulau Peucang yang memikat lewat hamparan pantai berpasir putih selembut bedak, kontras dengan hijau pekatnya hutan tropis di belakangnya. Lalu ada Karang Copong, sebuah formasi tebing karang eksotis yang berdiri anggun menantang deburan ombak, hingga Pulau Bocaan yang menawarkan paras alam yang masih sangat perawan dan asri.

Pesona yang Menambat Hati, Titipan yang Harus Dijaga

Daya pikat Ujung Kulon yang magis ini diakui langsung oleh Dinda, seorang wisatawan asal Bekasi, Jawa Barat. Datang bersama kerabatnya, Ade, Dinda mengaku terpaku saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Peucang.

750 x 100 AD PLACEMENT

“Ini pertama kali saya ke Pulau Peucang. Seru dan keren banget. Saat sampai di sini ternyata pemandangannya benar-benar seindah yang saya lihat di media sosial, bahkan lebih indah,” kata Dinda dengan nada kagum. Baginya, melihat satwa liar berkeliaran bebas dengan latar belakang laut biru jernih memberikan kedamaian yang membuatnya berjanji untuk kembali lagi suatu hari nanti.

Namun, di balik semua pesona kelas dunia yang ditawarkan, terselip sebuah pesan mendalam yang harus dibawa pulang oleh setiap pelancong. Eli Susiyanti mengingatkan bahwa keindahan sejati hanya akan bertahan jika dirawat dengan rasa kepedulian yang tinggi.

“Taman Nasional Ujung Kulon seluruh alamnya sangat indah dan layak dikunjungi. Datanglah ke Banten, namun dengan catatan bahwa alam Banten yang indah ini harus kita jaga bersama dan jangan sampai dicemari,” tegas Eli.

Ujung Kulon bukan sekadar tempat pelarian dari penatnya dunia modern. Ia adalah pengingat betapa megahnya alam Nusantara, sekaligus ruang sunyi tempat manusia bisa kembali belajar menghargai bumi pertiwi.

(sumber: bantenprov.go.id)

(*/red)

750 x 100 AD PLACEMENT
Mungkin anda tertarik
930 x 180 AD PLACEMENT